Kebudayaan "Kalosara" Dalam Masyarakat Adat Suku Tolaki

"Kekayaan alam nusantara serta budaya yang diwariskan turun-temurun
 hingga kreasi manusia modern yang tak menghilangkan jati diri asalnya
merupakan Mahakarya Indonesia yang tak lekang ditelan zaman"

Tulisan yang membahas tentang budaya suku bangsa seperti ini memang perlu dihadirkan, apa lagi di zaman seperti ini kita tidak bisa memungkiri bahwa kurangan pengetahuan atau pemahaman para generasi muda terhadap budayanya sendiri, maka tidak mengherankan jika dalam masyarakat indonesia pada saat ini dapat dikatakan bahwa kemajemukan adalah suatu tantangan yang besar. perbedaan suku, ras, golongan dan agama sering menjadi pemicu pertikaian, walaupun hal itu pada hakekatnya bukanlah inti dari sumber pertikaian yang terjadi. namun karena kurangnya wawasan terhadap apa yang menjadi keyakinan agama lain, membuat setiap agama hidup dalam kefanatikan yang berujung malapetaka bagi dirinya secara khusus dan bagi bangsa dan negara secara umum. untuk menepis terjadinya hal-hal yang kurang bermoral tersebut, sangat diperlukan adanya rekonsiliasi agar timbul saling pengertian dari kehidupan yang penuh toleransi antara satu golongan dengan golongan yang lain.

Dalam tulisan ini akan membahas salah satu kebudayaan suatu suku yaitu suku tolaki yang merupakan salah satu suku diantara suku lain yang mendiami daratan sulawesi tenggara. Tulisan ini akan memahamkan kita sebagai pembacanya tentang seberapa jauh peranan kalo dalam kebudayaan suku tolaki sehingga dapat dijadikan sebagai simbol tertinggi dan dianggap sebagai pusat yang mengaitkan menjadi satu diantara berbagai unsur kehidupan masyarakat suku tolaki.

Secara harfiah kalo sara atau yang biasa disebut kalo adalah suatu benda yang berbentuk lingkaran, cara-cara mengikat yang melingkar, dan pertemuan-pertemuan atau kegiatan bersama dimana pelaku membentuk lingkaran. selain itu, kalo sara merupakan lambang pemersatu dan perdamaian yang sangat sakral dan tetap dipandang keramat oleh suku tolaki yan selalu tampil dalam berbagai bentuk upacara ritual atau upacara adat dalam kehidupan suku tolaki.

Penghargaan kalo sebagai simbol tertinggi yang sudah lama dijunjung oleh masyarakat suku tolaki telah menjadi sesuatu benda yang keramat dan perlu dijaga serta dilestarikan. hal ini karena adanya keterkaitan erat antara kalo dan system yang mengatur kehidupan suku tolaki, yaitu mencakup seluruh perwujudan adat istiadat, mulai dari system kehidupan social hingga ekonomi yang bercorak tradisional, system budaya yang mencakup bahasa, seni, keagamaan, hingga sampai pada system pengkonsepsian untuk memandang manusia dalam kaitan eratnya dengan alam semesta. 


Prosesi Pelamaran Pihak Laki-laki Kepada Pihak Perempuan (Tampak Foto"Kalosara" berada pada tengah) 


Secara fisik, ‘kalosara ini diwujudkan dengan seutas rotan berbentuk lingkaran yang kedua ujungnya disimpul lalu diletakkan di atas selembar anyaman kain berbentuk bujur sangkar. tradisi yang tetap lestari hingga saat ini, biasa digelar dalam berbagai acara, seperti halnya acara perkawinan atau penyelesaian suatu pertikaian atau perselisihan dalam kehidupan masyarakat suku tolaki yang saat ini sebagian besar tersebar di wilayah kabupaten konawe, kabupaten konawe selatan, kabupaten konawe utara, kota kendari dan masyarakat suku tolaki yang kini sudah tersebar di wilayah lainnya.

Comments